FILSAFAT SOSIAL MALIK BENNABI : PEMIKIRAN KEAGAMAAN MEMBENTUK PERADABAN

Oleh : Dr Ali M. Hassan Palawa


Bila difikirkan segala sesuatu dari perspektif kesemestaan, maka akan dilihat suatu peradaban berjalan seperti matahari. Ia seakan-akan berputar mengelilingi bumi dengan sinarnya yang menderang di ufuk bangsa tersebut, kemudian bergeser ke ufuk bangsa yang lain. Adalah sangat bermanfaat, kata Malik Bennabi, apabila para pemimpin mau mengganti panorama yang terpampang jelas seperti itu, yang dengan itu mereka bisa memahami karakter benda-benda.

Sayangnya, ungkap Malik Bennabi lebih lanjut, mereka lebih membangga-banggakan dosa, sehingga mereka menganggap bahwa keinginannya berada di atas keinginan takdir, sehingga mereka berani mengatakan: “Wahai matahari, berhentilah!”. Mana mungkin matahari mau berhenti, mau mendengarkan ocehan orang seperti itu. Sebab, takdir pasti terus mengendalikan peradaban menuju ketentuan Allah bagi perjalanannya, dari satu putaran ke putaran yang lain, dari satu fajar ke fajar berikutnya, tanpa mengambil peduli terhadap ulah sementara orang yang mau memadamkan cahayanya atau memutarbalikkan fakta. Matahari juga tidak akan peduli terhadap prasangka-prasangka di sudut-sudut mesjid, atau apa yang diinginkan oleh kolonial.

Seperti diketahui, begitu suatu bangsa mulai menapakkan kakinya menuju peradaban, maka perbekalan yang dibawanya, dengan sendirinya, bukan datang dari para ulama atau ilmu pengetahuan, dan juga tidak dari produk-produk industri dan teknologi. Akan tetapi, berupa prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi seluruh produk tersebut. Untuk itu, entry point peradaban, tidak lain, kecuali tiga faktor adalah: (1) Manusia, (2) Tanah, dan (3) Waktu.

Mekipun demikian, suatu peradaban tidak akan muncul dalam suatu ummat di wilayah dan masa tertentu, kecuali dalam bentuk wahyu yang turun dari langit yang menjadi pedoman dan petunjuk ummat manusia. Artinya, kata Malik Bennabi, paling tidak wahyu tersebut akan membangun landasan peradabannya dalam memberikan arahan kepada manusia menuju Tuhan dalam pengertian umum. Dan adalah pas kalau dirumuskan, ‘pemikiran keagamaan membentuk peradaban’. Karenanya, tidaklah berlebihan kalau sejarah menemukan benih-benih peradaban kaum Budhis dalam agama Budha, dan inti peradaban kaum Brahmais dalam agama Brahma.

Kalau begitu bagaimana dengan peradaban modern Barat yang memegang hegemoni dewasa ini? Darimana Barat (orang Eropa) memiliki ‘prinsip kesadaran’ yang membuat ia mampu menciptakan peradaban. Dan bagaimana Malik Bennabi menjelaskan realitas faktual ini? Untuk menjawab ini, Malik Bennabi mengutip Kitab Suci Perjanjian Lama, ‘pada mulanya adalah Ruh’.

Selanjutnya, mengutip pendapat cendekiawan Hermann de Kesserling saat dia mengatakan, “Dengan dua Jerman muncullah semangat kreatif yang tinggi dalam Dunia Masehi”. ‘Semangat yang tinggi’ yang dimaksud disitu adalah pemikiran Masehi. Selanjutnya, cendekiawan ini mengatakan, ‘Semangat agama Masehi dan prinsipnya yang kreatif adalah dua pilar utama yang merintis jalan Eropa untuk meraih kepemimpinan sejarah’.

Beranjak dari hal ini, ummat Islam dapat memahami hakekat peradaban yang dibangunnya dengan menoleh sejarah awal munculnya peradaban Islam. Mengenai masalah ini, Malik Bennabi memberikan gambaran:

Pada awalnya, Jazirah Arabiah sebelum turunnya Al-Qur’an, hanya diisi oleh bangsa Baduwi yang hidup di padang pasir gersang yang menghabiskan waktunya tanpa banyak memberikan manfaat. Karena itu, ketiga unsur peradaban: manusia, tanah dan waktu hanya dapat membisu. Dengan lain ungkapan, ketiga unsur tersebut menumpuk tanpa peran apapun dalam sejarah. Tetapi, ketika muncul ‘ruh’ di Gua Hira, …tumbuhlah peradaban baru dari ketiga tumpukan unsur peradaban tadi, seolah-oleh ini dilahirkan oleh kalimat ‘iqra’ yang mengagetkan seorang Nabi yang ummi, yang dengan dan bersama itu menggeliatlah alam semesta. Sejak saat itu, tampillah khalifah Arab di panggung sejarah, sehingga untuk waktu-waktu yang sangat lama ia bisa membawakan peradaban baru bagi dunia, kemudian membimbingnya menuju kemajuan.”


Dari sini dapat ditegaskan bahwa peradaban-peradaban ummat manusia merupakan mata rantai yang besambung, yang perkembangannya mirip dengan agama-agama yang ada. Sebab gugusan pertamanya dimulai dengan munculnya pemikiran keagamaan dan ketenggelamannya dimulai dengan hilangnya ‘ruh’ yang kemudian disusul dengan rahibnya akal. Karenanya adalah sangat mungkin bagi ummat Islam untuk membangun peradaban dan memperbaharui dirinya, sepanjang syarat-syarat dan hukum-hukum tersebut tidak dikesampingkan. Hal seperti diisyaratkan oleh Allah: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa bencana dan ditimpa adzab yang sangat pedih.”

Jadi, keberadaan peradaban, menurut Malik Bennabi, sebagaimana yang telah disebut-sebut di muka, meniscayakan agama sebagai landasannya guna mensenyawakan ketiga unsur pokok peradaban, yaitu unsur: manusia, tanah dan waktu. Untuk itu, ketiga masalah ini akan diuraikan sekedarnya.

Pertama: Unsur manusia 
Problem yang dihadapi berbeda-beda. Ummat manusia tidak hanya menghadapi satu masalah tetapi berbagai dimensi masalah sejalan dengan beragamnya periode peradaban yang dilalui. Untuk itu tidak adil, bila kita bandingkan manusia yang ada di Dunia Islam dengan manusia yang ada di Dunia Barat. Oleh karena itu, manusia yang berada dalam Dunia Islam, harus membangun peradabannya dengan tiga orientasi: orientasi kebudayaan, orientasi kerja, dan orientasi moral. Dengan ketiga orientasi ini, manusia bakal memiliki persyaratan yang lengkap bagi upaya merintis peradaban yang dapat mencapai kegemilangan dalam sejarah.

1. Orientasi Kebudayaan
Kebudayaan adalah merupakan suatu keharusan untuk, pertama-tama, membersihkan tradisi, adat kebiasaan, dan wawasan moral dan sosial, termasuk unsur-unsur yang mematikan dan tidak berguna, sehingga atmosfir yang ada di sekeliling menjadi bersih. Pembersihan ini tidak mungkin dilakukan kecuali dengan pemikiran baru yang dapat menghantarkan kepada dunia kebangkitan. Adapun cara-cara yang harus ditempuh adalah: (1) Cara negatif, membersihkan diri dari karat-karat masa lalu, dan (2) Cara positif, pemikiran baru yang menghantarkan pada tuntutan masa depan. Upaya ini harus dilakukan secara simultan, dan kedua-duanya mengambil sumber dari Al-Qur’an, menafikan pemikiran-pemikiran jahiliyah yang mandul, dan menggariskan pemikiran Islam yang jernih dengan memprogramkan masa depan dengan metode yang positif.

2. Orientasi Kerja
Kerja adalah satu-satunya cara yang dapat menggerakkan benda-benda ke tujuan dalam tataran sosial. Meskipun kerja bukan merupakan unsur pokok peradaban, tetapi kerja muncul dari ketiga unsur tersebut. Orientasi kerja pada taraf pembentuk masyarakat, secara umum menggerakkan usaha bersama pada satu arah. Seluruh komponen masyarakat, pengemis, penggembala, petani, pedagang, mahasiswa, dosen, budayawan dan lain-lainnya, agar meletakkan sebuah batubata dalam bangunan peradaban yang baru. Dengan demikian, mereka disebut beramal sepanjang mereka memberi dan mengambil sesuatu dalam bentuk yang berpengaruh dalam sejarah.

3. Orientasi Modal
Modal inti definisinya adalah, ‘harta yang bergerak’. Modal berbeda dengan ‘kekayaan’. Dengan demikian, masalahnya bukanlah masalah menghimpun dana, melainkan menggerakkan kekayaan dan mengaktifkannya dengan cara mengarahkan kekayaan ummat yang tidak banyak itu dan itu dilakukan dengan menggeser arti sosialnya dari kekayaan yang menganggur menjadi modal yang bergerak, yang dapat menciptakan aktivitas pemikiran, kerja dan kehidupan di seluruh negara. Ikatan yang membuat kekayaan tidak bisa bergerak dan naik menjadi modal, telah menyebabkan ia menjadi sesuatu yang ‘primitif’ dan sederhana, baik dari sudut ekonomi maupun budaya.

Kedua: Unsur Tanah
Tanah adalah salah satu di antara tiga unsur pembentuk peradaban dan ketika terdapat perekat keagamaan dalam ketiga unsur itu –sebagaimana yang dijelaskan terdahulu– maka kita akan melihat unsur tanah yang ada di Dunia Islam, sangat penting untuk dikaji sebagai salah satu unsur peradaban. Ketika dibahas masalah tanah, maka kita tidak membicarakan karakter dan ciri-cirinya, sebab hal itu tidak berkaitan dengan tema tanah sebagai unsur peradaban, melainkan pada aspek nilai sosialnya. Apabila nilai suatu bangsa itu tinggi dan peradabannya maju, kata Malik Bennabi, maka harga tanah akan menjadi sangat mahal. Sebaliknya, jika ummat atau bangsa terbelakang dan peradabannya tidak maju maka harga tanahpun menjadi sangat murah.

Mengingat tanah sangat penting bagi pembentuk peradaman, maka Malik Bennabi, mengajak Dunia Islam untuk memelihara tanah dengan melakukan reboisasi dengan tidak membiarkan menjadi padang gurun pasir, seperti yang banyak tampak di Timur Tengah dan Afrik, dimana ummat Islam menjadi konsentrasi komunitasnya. Untuk masalah ini, Malik Bennabi mengatakan:

“Menanam pohon di padang pasir, misalnya, mula-mula pasti kelihatan sia-sia. Karena itu kita mesti memulainya dari pantai, dan bagian-bagian lain yang masih mempunyai potensi yang cocok untuk ditanami. Semua itu kita lakukan dengan membentuk pusat-pusat pengembangan teknologi di beberapa kota tertentu, yang dari situ gerakan penghijauan dilakukan hingga kepedalaman. Ini dari aspek teknologinya, sedangkan dari aspek psikologisnya, kita mesti menjadikan penghijauan tersebut sebagai simbol dari negeri yang terancam padang pasir, dalam upaya mereka mempertahankan diri. Bahkan hendaknya kita pun menetapkan hari penghijauan, sebagai peringatan atas perjuangan kita melawan padang pasir yang ancamannya sekarang ini dihadapi oleh mayoritas negara-negara Arab Islam.”

Ketiga: Unsur Waktu
Waktu, kata Malik Bennabi, adalah sumber purba yang mengalir di dunia ini sejak azali. Tiada suatu haripun yang menyemburatkan fajar barunya, tanpa ia menyerukan, “Wahai anak cucu Adam, aku adalah makhluk yang baru dan menjadi saksi atas pekerjaanmu. Oleh sebab itu tangkaplah aku, karena aku tidak akan datang kembali hingga datang hari kiamat”. Meskipun demikian, menurut Malik Bennabi, waktu adalah ‘bisu’, sehingga kita kerapkai melupakannya, dan peradaban pun lupa saat ini lengah atau melepaskan kesempatan yang sangat berharga yang tidak mungkin diganti. Pada saat manusia baru menyadari urgensi waktu, maka manusia tidak lagi memandang penting kekayaan, kebahagiaan bahkan cinta. Satu-satunya yang penting adalah waktu itu sendiri.

Bagian waktu yang dimiliki oleh setiap orang adalah sama. Waktu yang dimiliki oleh Dunia Islam dengan Dunia Barat juga sama. Ketika ‘lonceng kerja’ berbunyi, kemanakah ummat Islam melangkahkan kakinya? Malik Bennabi menggambarkan apresiasi Dunia Islam terhadap waktu, begini: “Dunia Islam kita mengenal ‘makhluk’ yang bernama waktu. Malangnya, waktu yang kita kenal ini adalah waktu yang berakhir dengan ‘tidak ada apa-apanya’, sebab kita tidak mengerti maknanya dan tidak tahu pula nilai-nilai pembagiannya dari jam ke jam, dari menit ke menit, dan dari detik ke detik. Lebih dari itu, sehingga kita pun belum mengerti tentang konsep ‘zaman’ yang memiliki keterpautan erat dengan sejarah.”

Kehidupan sejarah yang tunduk pada pembagian pewaktuan, telah dan akan meninggalkan kereta kita. Dengan demikian, kita sangat butuh akan adanya pembagian waktu yang cermat dan terprogram dengan baik, agar kita bisa mengejar ketinggalan. Karena kalau waktu sudah berlalu tidak ada satu kekuatan manapun di dunia ini yang dapat menghentikan atau mengembalikan waktu. (Malik Bennabi,Syuruth Nahdhah, 1961: 191).

Disini sengaja penulis tidak mengambil kesimpulan, tetapi penulis hanya sekedar ingin mengatakan secara jujur dan berani, bahwa Malik Bennabi ternyata adalah seorang pemikir yang sangat otoritatif, dimana namanya sangat layak disandingkan dengan Muhammad Iqbal atau pemikir lain sebelumnya, Ibn Khaldun. Malik Bennabi seorang pemikir yang sangat produktif dan otoritatif, sehingga tidak ragu untuk mengatakan bahwa ia Seorang Filosuf Peradaban.


Dr Alimuddin Hassan Palawa mendapat pendidikan awal dalam jurusan Aqidah-Filsafat, Fakultas Usuluddin IAIN (Sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1987-1993). Seterusnya menyambung Master di IAIN SUSQA Pekanbaru dalam jurusan Pemikiran Moden Islam dan menyiapkan PHD beliau berkaitan pemikiran politik Raja Ali Haji di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini berkhidmat sebagai tenaga pengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau sejak tahun 1995. Karya ilmiah yang beliau hasilkan diantaranya: “Pemikiran Politik Raja Ali Haji”, Jurnal Al-Jauhar Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, 2001; “Diskursus Keilmuan: Transmisi Hellenisme ke Dunia Islam”, Jurnal Al-Jauhar  2002; “Islam Rasional-Liberal: Kajian Pemikiran Syed Amer Ali”, Jurnal Refleksi Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, 2002; “The Penyengat School: A Review of The Intellectual Tradition in the Malay-Riau Kingdom”, Studia Islamika, Vol. 10 Number 3, 2003; “Meneroka Sejarah Persuratan Intelektual Melayu-Riau”, Jurnal Al- Fikra Pascasarjana UIN Riau, Vol.3 No. 2 Juli-Desember 2004; “‘Kecerdasan Hilmiyah’ dan Jahiliyah”, Riau Pos, 12 Meret 2004’ “Islam dan Tradisi Intelektual Melayu”, Riau Pos, 26 Maret  2004; “Pahlawan Melayu Lewat Kalam”, Riau Pos, Kamis, 20 Mei 2004; “Pemikiran Politik Islam Klasik”, dalam Jurnal “Al-  Fikra” Vol. 5 No. 1 Januari – Juni 2006 ; “Pembebasan Budak dalm Islam (Upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender)”, Jurnal Marwah PSW UIN Suska Riau, Vol. V, No.1 – Juni 2007; “Historiografi Melayu: Kajian Atas Tuhfat al-Nafis Karya Raja Ali Haji” dalam Jurnal Al-Fikra, Vol. 8, No. 1, Januari-Juni 2009; dan “Raja Ali Haji: Pelindung Budaya dan Pemelihara Bahasa Melayu”, Vol. 10, No. 1, Januari-Juni 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *