Membumikan Islam; Dari Ketuhanan ke Keinsanan

Oleh: Nur Arif

Karl Marx telah mendakwa bahawa agama adalah candu bagi masyarakat. Kalau melihat keadaan kaum Muslimin sekarang, mungkin ada benar kenyataannya di sebahagian kebenaran.

Bukan menafikan agama, kalau agama itu dimanipulasi dengan tujuan-tujuan tertentu oleh sebahagian pihak, dengan penyalahgunaan agama untuk mencandukan masyarakat atau melekakan masyarakat daripada menyedari tanggungjawab peribadi serta tanggungjawab sosial, inilah yang dimaksudkan bahawa kenyatakan Karl Marx itu ada benarnya dalam konteks ini. 

Di sinilah perlu adanya pembumian nilai-nilai keagamaan yang bermuara di dalam ajaran Islam. Bukan lagi hanya perbahasan melangit-langit ke atas, lalu didominasi oleh sesuatu pihak dan akhirnya berbalah dengan hal-hal yang tidak berkesudahan.

Perkara yang perlu diambil perhatian, ialah hal-hal integriti, amanah, keadilan, tanggunjawab sosial serta kepedulian yang kaya terhadap yang miskin turut bermuara di dalam ajaran Al-Quran. Kerana ritual keagamaan tidak hanya untuk kesalehan peribadi tanpa adanya kepedulian terhadap yang lain. Melainkan, dengan kebertanggungjawaban sosial dalam memenuhi kekhalifahan manusia di muka bumi ini.

Islam sebagai sebuah dasar kehidupan bagi kaum Muslimin seharusnya tidak hanya mengedepankan hablum min Allah (ketuhanan), dan semestinya keberlangsungan dengan hablum min an-nas (kemanusiaan). Menurut Moeslim[1] ibadah secara khusyu (kesaksian ibadah) harus diimbangi dengan kepedulian sosial. Hal ini menjadi kegelisahan Moeslim ketika melihat realiti umat Islam saat ini sedang terjajah oleh arus modernisasi yang menyebabkan berkembangnya kapitalisme Barat, sehingga berdampak meningkatnya kemiskinan dan kebodohan yang dilandai dan dibelengui oleh umat ini.

Tawaran Islam Transformatif yang dipelopori dan digagaskan oleh Moeslim ini ialah upaya bagi menjawab persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan yang dihadapi oleh umat manusia. Selain Moeslim, Kuntowijoyo[2] juga menarik perhatiannya terhadap pemikiran transformatif ini, yang bertolak dari pandangan-pandangan dasar bahawa misi Islam yang utama adalah untuk kemanusiaan.

Untuk itu, Islam harus menjadi kekuatan yang dapat memotivasi secara terus-menerus dan mentransformasi masyarakat dengan berbagai aspeknya yang membumi, bersifat praktikal (menjelmakan aksi) dan teoritis (sebagai dasar keyakinan yang utuh).

Beragama terutama dari sudut ketuhanan atau teologi (akidah), bukanlah alat untuk menghindarkan diri (eskapisme) daripada realiti berbagai-bagai masalah masyarakat atau justifikasi bagi tindakan-tindakan yang menindas. Ini kerana ketauhidan atau ketakwaaan dengan keadilan adalah satu perkara yang terkaitan, yang tidak boleh dipisahkan dalam membentuk seluruh wadah keagamaan, baik dalam soal moral, sosial, budaya, ekonomi, politik, mahupun dalam soal hendak berhukum.

Hal ini dapat dituntaskan dengan baik oleh Amien Rais[3] sebagai tauhid sosial, iaitu dimensi sosial dari tauhidullah. Selama ini ajaran mengenai tauhid hanya membahas beragam permasalahan yang melangit, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Amien Rais seperti, Allah memiliki sifat, Allah memiliki tangan atau tidak, dan lain-lain. Tidak menafikan bahawa perbahasan ini sudah lama diwarisi dalam tradisi keilmuan Islam sendiri. Tetapi, sampai bilakah mahu bersengketa dengan hal-hal sebegini? Bagaimana dengan nasib umat manusia yang diberlakukan dengan tidak adil, siapa yang mahu membela mereka?

TAUHID SOSIAL

Islam bukan hanya agama Tauhid yang berarti mengesakan Tuhan semata, tetapi lebih dari itu. Menurut Amien Rais, di dalam ajaran Tauhid terdapat nilai-nilai sosial yang tinggi seperti keadilan, demokrasi, persamaan dan pemerataan. Islam bukan hanya agama langit yang tidak membumi.

Sebaliknya Islam membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Tauhid Sosial ini berarti Islam bukan hanya agama yang melulu mementingkan kegiatan ritual (ibadah) yang kosong, melainkan agama yang berinteraksi dengan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, penindasan, kezaliman, kediktatoran dan segala cacamarba atau serakah dan kerakusan di dunia ini.

Malah, sekiranya menelurusi perjalanan kenabian-kerasulan para-para utusan Tuhan, menunjukkan, adalah dengan berinteraksi segala macam keserakahan umat manusia pada latar waktu masing-masing. Ini juga berarti, umat Islam harus berinteraksi dengan berbagai permasalahan sosial, dan Al-Quran serta Hadis tidak melulu bicara soal ibadah sahaja, tetapi juga bicara mengenangi masalah-masalah sosial.

Dalam panggung sejarah telah memperlihatkan bahawa salah satu keserakahan yang paling besar adalah kediktatoran. Islam dengan jelas menolak kediktatoran, yang dimaksudkan oleh Al-Quran dengan “thagut” yang melangkahi kebenaran dan hak kemanusiaan sejagat. Perlawanan terhadap “thagut” inilah yang mahu ditengahkan oleh Amien Rais sebagai jihad sosial. Hal ini dapat dilihat ketika Amien Rais yang merupakan seorang politikus Indonesia berhadapan dengan rejim politik dalam Rezim Orde Baru, yang kerap mengkritik dan mengkritisi Suharto.

Tauhid Sosial mencuba membuka wawasan baru mengenai tauhid yang lebih membumi, agar tauhid yang tertanam di benak kaum muslimin boleh diturunkan ke dataran pergaulan dan realiti sosial secara konkrit (M. Amien Rais, 1998; 108). Inilah yang mahu di ketengahkan oleh Amien Rais bahawa, kepercayaan terhadap Tuhan melahirkan lima dasar pengertian sebagai pandangan hidup yang berlandaskan tauhid, iaitu meyakini; kesatuan ketuhanan (unity of godhead), kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of guidance) dan kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life). (M. Amein Rais, 1987; 18).

Di sini kita memerlukan nilai-nilai Islam yang universal, iaitu nilai-nilai Islam yang mampu diterima oleh masyarakat global. Tauhid Sosial sebagai sebuah konsep umum yang merupakan sebuah kajian dalam bidang teologis dengan bidang sosial, dan berusaha mengkomunikasikan antara dua bidang kajian tersebut.

Tauhid Sosial masih relevan untuk digarap dan diterapkan, sebagai sebuah gagasan. Tauhid Sosial perlu dibumikan dengan membuka Alquran dan Hadis dengan keberlangsungan teori-teori sosial moden. Dengan memerlukan penyelidikan ilmu sosial yang boleh menganalisa permasalahan sosial secara komprehensif.

Walaupun Al-Quran dan Hadis bukan kitab yang memerihalkan ilmu sosial, akan tetapi gejala kepincangan sosial telah ada selama berabad-abad. Dalam sejarah para nabi dan rasul, ajaran keadilan sosial sangat ditekankan dalam berbagai bentuk. Al-Quran dan Hadis dapat menjadi referensi atau rujukan moral bagi merespon masalah-masalah sosial.

Selama ini, perkembangan teori-teori ilmu sosial telah dimulai sejak revolusi ilmu pengetahuan pada akhir abad ke delapan-belas yang ditandai dengan dominannya penggunaan rasio (akal) dan pegalaman empiris di belahan bumi Barat. Dampak revolusi ilmu pengetahuan bagi perkembangan ilmu sosial terus berkembang sampai dengan saat ini dimana ilmu pengetahuan memposisikan diri terpisah dari pengaruh institusi agama.

Akan tetapi dampak dari perkembangan tersebut, ilmu pengetahuan dan khususnya ilmu sosial berada dalam posisi dilematis, dimana hanya dapat menjelaskan fenomena sosial dan tidak dapat mengarahkan perubahan itu sendiri. Hal ini, melalui Ilmu Sosial Profetik yang digagaskan oleh Kuntowijoyo, dengan bermaksud mengembalikan posisi agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Dalam masa yang sama, menjadi upaya perubahan.

Islam perlu mampu merespon tantangan baru masyarakat industri dan modernisasi, bagi upaya membumikan ajaran Islam yang memihak dan membebaskan dari pelbagai penindasan dan kelemahan. Di samping itu, Moeslim Abdurrahman memberi alternatif dan orientasi paradigma modernisasi dan paradigma Islamisasi yang menaruh perhatian persoalan keadilan dan ketimpangan sosial yang dianggap sebagai struktur yang menjadikan banyak umat manusia tidak mampu mengekspresikan harakat dan martabat kemanusiaannya.

Dalam Ilmu Sosial Profetik ini, Kuntowijoyo mencoba melakukan sintesis antara teori-teori ilmu sosial yang telah tersedia ada, dengan pengetahuan-pengetahuan yang terkandung dalam kitab suci Al-Quran, yang diposisikannya sebagai data atau dokumen dari Tuhan. Upaya sintesis tersebut digambarkannya sebagai sebuah upaya objektifikasi Islam, iaitu sebuah upaya pengilmuan ajaran-ajaran Islam.

Dengan ini, Kuntowijoyo mengidealkan ilmu sosial dapat mengarahkan perubahan berdasarkan pengetahuan yang bersumber dari data atau dokumen ketuhanan. Ini dapat dilihat melalui Alquran yang didasari dari prinsip “ta’muru bi al ma’ruf” (liberasi atau emansipasi; pembebasan dari penindasan), “tanhauna ‘an al munkar” (humanisasi; kemanusiaan) dan “tu’minuna bi Allah” (transendensi; ketuhanan).

ILMU SOSIAL PROFETIK

Salah satu persoalan yang sering menjadi bahan wacana pemikiran Islam kontemporari adalah bagaimana merumuskan dan mengembangkan kembali ilmu-ilmu keislaman yang relevan dengan kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang terus berkembang. Perumusan ini, perlu berangkat dari gerakan intelektual dari teks ke konteks. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk menghadirkan Islam sebagai agama yang menjadi inspirasi perbuatan teori ilmiah, baik pada aspek fizik, sosial, simbolis mahupun sejarah.

Interaksi antara agama dan ilmu pengetahuan di sini dilakukan dengan cara menggali teori dari sumber Islam. Mengkonstruksi upayanya dengan menempatkan Alquran sebagai paradigma landasan pemikiran tertentu (mode of thought atau mode of inquiry), produksi dari aplikasi paradigma tertentu adalah mode of knowing atau cara mengetahui tertentu (Kuntowijoyo, 2004; 10-11).

Cara inilah yang disebut oleh Kuntowijoyo sebagai proses pengilmuan. Selanjutnya, konstruksi pengetahuan itu memungkinkan kita memahami realiti sebagaimana Alquran memahaminya (asbab al-nuzul). Artinya, tawaran metodologisnya bersifat maqasidi.

Dengan menempatkan Al-Quran sebagai paradigma, Kuntowijoyo berusaha untuk memberi epistemologi dan aksiologi khas Alquran. Dengan merujuk pada surah Ali Imran, ayat yang ke-110, yang menegaskan bahawa umat Islam adalah umat terbaik diturunkan untuk tugas melakukan kebaikan (amar ma’ruf dan nahi mungkar).

Seperti yang telah dinyatakan tadi, didasari dari prinsip “ta’muru bi al ma’ruf” (liberasi atau emansipasi; pembebasan dari penindasan), “tanhauna ‘an al munkar” (humanisasi; kemanusiaan) dan “tu’minuna bi Allah” (transendensi; ketuhanan) (Kuntowijoyo, 2004; 11-16).

Kuntowijoyo menempatkan wahyu sebagai strukturalisme transendental atau ide murni, sehingga dasar pembinaan ilmu dalam pandangannya adalah untuk mencari pesan universal Al-Quran. Dengan cara seperti ini, maka pesan Alquran boleh diarahkan untuk kemaslahatan umat manusia, dimaknai sebagai pencarian makna yang didasarkan pada kemanfaatan umum, atau masalih mursalah. Dalam tradisi Barat, kemaslahtan umum sering ditermakan sebagai public interest atau kepentingan umum, iaitu suatu cara berfikir yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kebaikan umum.

Kuntowijoyo menyebut pendekatannya ini dengan strukturalisme transendental, dengan tujuan bukan hanya untuk memahami Islam, tapi untuk suatu upaya bagaimana menerapkan ajaran-ajaran sosial yang terkandung dalam teks lama pada konteks sosial masa kini tanpa mengubah strukturnya (Kuntowijoyo, 2001; 10). Disini Kuntowijoyo, memberi dua level iaitu; (1) struktur permukaan dan (2) struktur dalam, dengan tujuan menyingkap makna terdalamnya atau struktur dalam. Dengan menempatkan tauhid sebagai kekuatan pembentuk struktur, seperti dibawah ini:

Tauhid adalah kekuatan pembentuk struktur, iaitu Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Merupakan realiti mutlak, hakikat dan kebenaran. Tauhid kemudian membentuk struktur dalam yang bersifat tetap seperti akidah, ibadah, akhlak, syariah dan yang bersifat dapat berubah, iaitu muamalah. Aspek muamalah inilah yang menjadi medan ijtihad untuk pengilmuan Islam.

Dalam pandangan Kuntowijoyo, umat Islam perlu memperluas kesadarannya dengan; (1) kesadaran tentang perubahan, (2) kesadaran kolektif, (3) kesadaran sejarah, (4) kesadaran tentang fakta sosial, (5) kesadaran tentang masyarakat abstrak, dan (6) kesadaran tentang perlunya objektifikasi.

Dengan pemenuhan enam kesadaran ini, dapat dibangunkan atasnya proses objektifikasi yang Kuntowijoyo namakan sebagai integralisasi ilmu atau transformasi ilmu sosial profetik. Ilmu-ilmu integralistik adalah proses objektifikasi pembinaan ilmu pengetahuan untuk memelihara keberlangsungan ilmu itu sendiri dengan memasukkan kembali pentingnya peranan agama.

Ilmu Sosial Profetik menempatkan posisi wahyu sebagai nilai-nilai yang memberikan arah kegiatan ilmiah dan sebagai data yang valid untuk mencapai kesimpulan teoretis. Dalam hal ini, Kuntowijoyo mengusulkan pendekatan analitis terhadap Al-Quran yang memandang Al-Quran sebagai data atau dokumen dari Tuhan.

Kuntowijoyo menyarakankan dua langkah untuk rekonstruksi epistemologis yang merupakan metode pemikiran ulang dan metode penyelidikan yang menguraikan bahawa sumber ilmu pengetahuan salah satunya adalah wahyu, selain rasio dan pengalaman empiris.

Maka untuk mewujudkannya, perlu kiranya meminjam istilah oleh Moeslim Abdurrahman sebagai teologi transformatif. Bahawa usaha untuk melaksanakan eksperimentasi teologi transformatif, dilakukan dengan cara mencari pendekatan baru, iaitu melalui penafsiran teks dengan kesadaran akan konteksnya dan kemudian mempelajari konteks secara dialogis.

Dengan cara demikian, teks dapat benar-benar hidup dalam realiti empiris dan mengubah keadaan masyarakat ke arah transformasi sosial yang diredhai Tuhan. Ini artinya, ia menekankan pada hubungan dialogis antara teks dan konteks. Oleh kerana itu, perlu adanya refleksi iman bersama untuk memahami konteks, sebagai daya kesedaran dalaman yang dapat menjelmakan aksi, yakni spritualisme Islam.

ISLAM TRANSFORMATIF

Pemikiran teologi transformatif lahir sebagai respon terhadap dampak negatif dari pembangunan kapitalisme dunia. Gejala keterasingan hubungan antara manusia dengan Tuhan ataupun manusia dengan manusia, boleh menyumbang kepada dehumanisasi (ketidakmanusiaan). Adapun dehumanisasi lebih berdampak pada perilaku, cara berfikir dan paradigma dalam menyikapi kehidupan. Kedua hal ini, mempunyai ciri sama iaitu hilangnya sifat kemanusiaan.

Corak pemikiran transformatif ini diperkasai oleh Moeslim Abdurrahman. Bagi pencarian sebuah metode berfikir dan tindakan yang memihak, serta dapat membekali dan mempersenjatai masyarakat untuk boleh bangkit membebaskan diri dan keluar dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan dengan mengesampingkan paradigma modernisasi (Shofan, 2006: 316).

Hal ini demikian kerana kemiskinan merupakan masalah utama kehidupan banyak umat manusia. Dewasa ini, kemiskinan tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dengan institusi kebajikan agama individual. Pemikir-pemikir agama harus berani mengambil terobosan dengan refleksi dan menggugah kepekaan rohani, kepada pihak-pihak yang lebih luas.

Pemikiran Transformatif ini merupakan perkembangan teologi yang lebih bersifat praktikal, “kaum beriman” dalam melakukan sebuah tindakan tidak semata bersifat ukhrawi, tetapi juga bagaimana “kaum beriman” dengan teologinya membangun kedamaian, keadilan, egalitarianisme (kebersamaan) di dunia ini, kerana hal ini menghindari pemahaman terhadap ajaran agama secara sempit (Toha Rudin Rizal, 2016: 57-58).

Moeslim Abdurrahman yang merupakan seorang cendekiawan Islam, hadir untuk turut merenungkan dan berupaya memecahkan persoalan ini. Menurutnya, persoalan dalam dunia Islam memang terletak pada pemaknaan Islam yang kurang memadai. Perlu pemaknaan ulang yang lebih segar dalam ajaran-ajaran Islam.

Baginya, makna Islam yang paling murni bukan terletak pada rumusan teologisnya (apatah lagi yang dibakukan atau dipergunakan oleh sebahagian pihak), namun muncul dalam pergulatan hidup sehari-harian para umatnya untuk menegakkan cita-cita keadilan (Moeslim, 2009: 7).

Justeru, pertimbangan dasar untuk melihat apakah makna Islam telah menggerakkan emansipasi kemanusiaan haruslah dilihat dari proses empiris yang sedang berlangsung. Dengan begitu, Islam menjadi gagasan yang “bergerak” dan bukan sekadar memperkayakan khazanah intelektualisme yang canggih.

Moeslim menyatakan bahawa doktrin Islam harus diterjemahkan ke dalam ide-ide yang tidak sekadar bercorak intelektualistik yang mungkin tidak mampu menumbuhkan atau menggugah kesadaran kolektif masyarakat dalam melakukan perubahan sosial.

Hal itu, disebabkan oleh ketidakpekaan gagasan-gagasan intelektual terhadap realiti hegemonik, yang berakibat akan berlawanan dengan utopia emansipasi pada tingkat pentingnya tranformasi sosial. Sebab, gagasan Islam yang mencerahkan tidak selamanya memberi pengaruh proses memerdekakan dan membebaskan, kalau hal itu tidak lahir dari proses kritik ideologis-transformatif (Moeslim. 2005: 116). Hal ini sangat berbahaya jika reintelektualisasi Islam yang mencerahkan memberi keluasaan berfikir, namun tanpa kepedulian untuk berpihak secara autentik memperjuangkan pedagogis kemanusiaan (Moeslim, 2005).

Masih dalam pemikiran Moeslim, Islam sebagai perubahan yang memugar kesadaran emansipasi, terutama yang bersifat struktural dan bukan Islam sebagai kegiatan dakwah yang terlalu mengutamakan kesalehan ritual. Dalam hal ini, Moeslim bertanya; kenapa kesalehan ritualistik sekarang ini lebih banyak dipertontonkan dalam publik dengan ungkapan yang mahal dan menunjukkan kedarjatan, dibandingkan sebagai kekuatan spiritual yang pentingnya menegakkan nilai-nilai kesetaraan yang lebih manusiawi? (Moeslim, 2009: 9).

Lebih lanjut, Moeslim menilai bahawa agama (Islam) seringkali telah kehilangan panggilan sucinya sebagai motivasi perubahan, sebagai sumber gagasan gerakan sosial, dan bahkan sebagai kekuatan kesadaran kolektif untuk membangkitkan tentang perlunya menegakkan cita-cita keadilan sosial yang telah meredup dan rapuh (Moeslim, 2009: 9). Dalam membongkar dan mengajak umat menelaah ulang keislamannya, maka Moeslim menawarkan cara untuk memaknai ajaran Islam secara produktif dan substansial.

Hal ini, Moeslim namakan dengan Islam Transformatif. Menurutnya, pada dasarnya Islam Transformatif adalah sebuah impian teologis, yakni bagaimana makna agama boleh diperebutkan oleh mereka yang terpinggir, bukan dengan membuang wiwbawa tentang siapa yang boleh menafsirkan dan tidak boleh menafsirkan makna suci, tetapi bagaimana Islam boleh menjadi ruh pembelaan bagi mereka yang sengsara, tatkala mereka yang menindas dengan kekuasaannya juga menggunakan pembelaan agama yang sama.

DIAKHIRI DENGAN KESEDARAN EKOLOGI

Seperkara lagi yang perlu disedari ialah perhubungan manusia dengan lingkungan alam sekitar. Islam tidak hanya dengan perhubungan ketuhanan dan semasa manusia sahaja, tetapi yang perlu mengambil kira pentingnya berinteraksi dengan lingkungan alam sekitar.

Dewasa ini masyarakat global dihadapkan dengan krisis lingkungan dan eko-sistem, mulai dari perubahan iklim, pemanasan global, menipisnya lapisan ozon, hujan panas, banjir kilat, kemarau, tanah runtuh hingga dinihari wabak virus yang tidak kelihatan yang menjadi asbab kepada krisis ini. Manusia dinilai sebagai watak utama dalam kerosakan lingkungan alam sekitar akibat dari keserakahan dan kelalaian mereka dalam mengeksploitasi sumber daya alam.

Hal ini, terdapat satu tawaran rekonstruksi paradigma fiqh al-bi’ah berasaskan kepada kecerdasan naturalis sebagai suatu alternatif dalam krisis lingkungan alam sekitar dan melestarikan sumber daya alam. Persoalan krisis lingkungan global menjadi persoalan serius saat ini. Seluruh bumi terancam. Tidak ada satu bangsa atau negara manapun yang luput dari dampak krisis ini. Menurut Seyyed Hossein Nasr, bahawa krisis ekologi disebabkan akibat dari krisis spiritual manusia moden.

Nasr (1976: 14) menyatakan bahawa berbagai kerosakan yang terjadi akibat sains, teknologi, dan ekonomi kapitalis yang sebenarnya berakar pada krisis spiritual. Sains, teknologi dan ekonomi yang merupakan kebutuhan manusia seharusnya tidak dipisahkan dari rangkulan spiritual sebagai check and balance. Menurut Nasr, kerana akibat aspek spiritual yang dipinggirkan, membuat manusia modern berpandangan manusia dapat menggunakan segala aset alam tanpa batas sebagai identiti dari paradigma humanism-antroposentris (Seyyed Hossein Nasr, 1976: 14).

Selanjutnya para pakar lingkungan alam sekitar menyimpulkan bahawa tiga faktor utama yang menyebabkan lahirnya krisis ini; (1) Permasalahan fundamental-filosofis berakar pada kesalahan cara pandang manusia terhadap dirinya, alam, dan posisi manusia dalam keseluruhan eko-sistem. Yang mengganggap dirinya superior untuk bersikap hegemonik terhadap alam. Faham ini ditunjang dengan materialisme, kapitalisme dan pragmatisme. (2) Permasalahan politik ekonomi global. (3) Permasalahan pemahaman keagamaan, yang tidak memandang krisis ekologi ini sebagai imbas dari krisis kemanusiaan dan kriris moraliti sosial serta kegagalan manusia dalam memahami hukum alam (sunnatullah).

Sebagai penutup dan mengakhiri tulisan ini, interaksi antara manusia dan alam lingkungannya merupakan hubungan spiritualisme rasional yang menggambarkan nilai-nilai kedamaian alam, keindahan dan tanggungjawab moral dalam menjaga lingkungan, perlindungan dari setiap kerosakan dan kehancuran lingkungan, dan pembangunan serta penghijauan kembali atau revival alam dan lingkungan yang sudah rosak.

Hubungan ini merupakan kewajiban moral dan kewajiban spiritual setiap manusia, manusia hendaknya menjadikan alam dan lingkungannya di dunia ini layaknya taman keindahan yang ia nikmati di syurga. Oleh karena itu, Islam juga menurutnya sangat mengedepankan perspektif tersebut yang ia sebut sebagai a deep relational perspective on natural and social ecology.


[1] Moeslim Abdurrahman atau sapaan akrabnya ialah Kang Moeslim, yang merupakan seorang cedekiawan Muslim, intelektual dan aktivis masyarakat sivil di Indonesia. Kang Moeslim ditanggapi sebagai mentor intelektual yang tangguh bagi anak-anak muda Muhammadiyah. Dan pernah menjabat sebagai seorang Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Bidang Pemberdayaan Buruh, Petani dan Nelayan. Kang Moeslim lahir pada 8 Ogos 1948, menempuh seluruh pendidikan dasarnya di dunia pasantren iaitu Pasentren Kertosono, Jawa Timur. Kemudiannya menyelesaikan studi Sarjananya di bidang Pendidikan Islam di Unversitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Tidak terhenti disini sahaja, diraihnya Master dan Ph.D dalam Jurusan Antropologi, University of Illinois, Urbana, Champagne di Amerika Syarikat. Tercatat pernah menjadi Ketua Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), salah seorang pendiri dan penasihat Maarif Institute, serta penasihat di Center for Strategic and International Studies (CSIS), dan pendiri Al-Ma’un Institute. Kang Moeslim adalah pemikir yang mepelopori gagasan Islam Transformatif, yang merupakan tawarannya dalam upaya yang memikirkan dan menyelesaikan pelbagai persoalan sosial dan kemanusiaan yang dihadapi oleh umat manusia. Gagasan ini tercermin dan dapat dilihat melalui karya-karyanya. Seperti, Menafsirkan Islam dalam Tradisi dan Persoalan Umat (1990), Kang Thowil dan Siti Marginal (1995), Islam Transformatif (1995), Semarak Islam, Semarak Demokrasi (1997), Islam sebagai Kritik Sosial (2003), Islam yang Memihak (2005) dan catatan terakhir adalah Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan (2009). Kang Moeslim wafat pada 6 Julai 2012.

[2] Kuntowijoyo merupakan seorang Sejarawan, Sastrawan dan Budayawan di Indonesia. Dilahirkan di Yogyakarta, pada 19 September 1943. Berjaya menyelesaikan Sarjananya di Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah di Universitas Gadjah Mada. Selepas itu, Masternya diperoleh dari University Connecticut di Amerika Syarikat. Sementara Ph.D dalam studi sejarah yang diperolehnya dari University Columbia. Pernah terlibat sebagai dosen (pensyarah) di Universitas Gadjah Mada. Telah banyak menghasilkan dari pelbagai jenis karya, dari novel, cerpen hingga ke pemikiran-pemikirannya. Antaranya, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1968), Pasar (1972), Khotbah Di Atas Bukit (1976), Paradigma Islam; Interpretasi Untuk Aksi (1991), Budaya dan Masyarakat (1987), Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Metologi Sejarah (1994), dan beberapa yang lain. Pemikirannya telah menawarkan metode reinterpretasi untuk memahami tujuan-tujuan Alquran, dari pemahaman yang general dan normatif ke pemahaman spesifik dan empiris. Penafsiran seperti ini bukan saja akan menumbuhkan kesadaran objektif agama, tetapi juga memungkinkan Islam muncul sebagai agama yang relevan untuk menjawab permasalahan kontemporari. Kuntowijoyo wafat pada 22 Februari 2005.

[3] Mohammad Amien Rais, dilahirkan pada 26 April 1944 di Solo, Jawa Tengah. Lebih dikenali sebagai seorang pengamat politik atau politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1999 hingga 2004. Lahir dan hidup dalam kalangan keluarga aktivis Muhammadiyah. Lulus Sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dan Sarjana Muda Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kemudiannya meraih Master dari University Notre Dame, Indiana. Hingga meperolehi Ph.D dalam jurusan Ilmu Politik dari University Chicago, Illinois, Amerika Syarikat. Wawasannya yang luas mengenai kondisi bangsa, menjadikannya tidak hanya soleh secara peribadi, namun juga secara sosial. Suatu hal yang wajar jika pada kemudian hari dia menelurkan formulasi baru mengenai tauhid yang menyentuh ranah sosial. Sebagai contoh adalah pelaksanaan solat fardu lima waktu. Meskipun solat merupakan kewajiban individu sebagai seorang Muslim, namun melaksanakannya sangat dianjurkan untuk solat secara bersama iaitu dengan berjemaah. Hal ini menunjukkan bahawa Islam mencintai persatuan dan kebersamaan. Selain itu, semangat kebersamaan (musawa bainan nas), egalitarianisme (pengakuan bahawa semua manusia itu sederajat). Hal ini, dapat dilihat dalam karya-karyanya. Seperti, Cakwala Islam; Antara Cita dan Fakta (1987), Demi Kepentingan Bangsa (1997), Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan (1998), Membangun Politik Adiluhung; Membumikan Amar Ma’ruf Nahi Munkar (1998).


RUJUKAN

  1. M. Amien Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, (Bandung: Mizan, 1987).
  2. ___________, Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan, (Bandung: Mizan, 1998).
  3. ___________, Membangun Politik Adiluhung: Membumikan Tauhid Sosial Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, (Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998).
  4. Moeslim Abdurrahman, Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009).
  5. ___________, Islam Sebagai Kritik Sosial, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003).
  6. ___________, Islam Transformatif, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995).
  7. ___________, Islam Yang Memihak, (Yogyakarta: LkiS, 2005)
  8. Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, (Jakarta: Teraju, 2004).
  9. ___________, Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental, (Bandung: Mizan, 2001).
  10. ___________, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 2008).
  11. Seyyed Hossein Nasr, Man and Nature, The Spiritual Crisis in Modern Man, (London: George Allen & Unwin, 1976).

Nur Arif berasal dari Melaka dan merupakan Felo Lestari Hikmah. Beliau berkelulusan Diploma Pengajian Islam & Sumber Manusia dari Kolej Universiti Islam Melaka. Beliau merupakan salah seorang penulis buku Inteligensia Penyuluh Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *